Mengintip Gaji Kerja di Restoran Belanda dari Cerita WNI

Bekerja di luar negeri kerap menjadi impian banyak orang karena dianggap menjanjikan penghasilan besar. Salah satunya adalah kisah nyata seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Mandy Mirasari yang berbagi pengalamannya bekerja di Belanda melalui kanal YouTube pribadinya. Dalam vlog tersebut, Mandy membagikan informasi seputar dunia kerja di Belanda, khususnya di sektor hotel, restoran, dan kafe — atau yang dikenal dengan istilah horeca.

Mengintip Gaji Kerja di Restoran Belanda dari Cerita WNI

Melalui video itu, Mandy memberikan gambaran realistis soal penghasilan di industri horeca Belanda, serta tantangan finansial yang tetap harus dihadapi meskipun gaji yang diterima cukup tinggi jika dikonversi ke rupiah.

Gaji Kerja Horeca di Belanda: Lumayan Tapi Banyak Potongan
Mandy menyebutkan bahwa rata-rata pekerja di sektor horeca di Belanda bisa mendapatkan gaji sekitar €1.900 hingga €2.200 per bulan, tergantung dari jenis pekerjaan, pengalaman kerja, serta wilayah tempat bekerja. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs saat ini yang berkisar di angka Rp17.000 per euro, maka jumlah tersebut setara dengan Rp32 juta hingga Rp37 juta per bulan.

Namun, menurut Mandy, angka itu bukanlah jumlah yang bisa langsung dinikmati begitu saja. Gaji tersebut masih harus dipotong pajak, asuransi kesehatan, dan berbagai biaya hidup yang tergolong tinggi di negara Eropa tersebut. Setelah dikurangi berbagai kewajiban itu, pendapatan bersih yang bisa dibawa pulang biasanya hanya sekitar €1.500 atau sekitar Rp25 juta.

Biaya Hidup di Belanda: Tinggi dan Menantang

Belanda memang dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas hidup yang baik, namun biaya hidup di sana juga tinggi. Menurut Mandy, biaya sewa tempat tinggal menjadi salah satu beban paling besar. Untuk tinggal di satu kamar di rumah kontrakan bersama orang lain, seseorang harus membayar sekitar €500 hingga €700 per bulan. Jika ingin tinggal di apartemen sendiri, biayanya bisa dua kali lipat lebih mahal.

Belum lagi biaya makan, transportasi, listrik, internet, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Maka tidak heran jika meskipun gaji terlihat besar, pada kenyataannya cukup sulit untuk menabung dalam jumlah signifikan setiap bulan.

Bekerja Keras Tapi Sulit Punya Rumah
Salah satu poin penting yang disampaikan Mandy adalah bahwa walaupun bekerja di Belanda bisa menghasilkan puluhan juta rupiah per bulan, bukan berarti hal tersebut cukup untuk membeli rumah. Harga properti di Belanda tergolong sangat mahal, terutama di kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam, dan Utrecht.

Menurut data yang dikutip Mandy, harga rumah di kota besar Belanda bisa mencapai €300.000 hingga €500.000, atau setara dengan Rp5 miliar hingga Rp8 miliar. Bahkan dengan gaji stabil dan pekerjaan tetap, banyak orang yang tetap kesulitan untuk bisa membeli rumah sendiri tanpa bantuan kredit jangka panjang dari bank.

Perbandingan dengan Kondisi di Indonesia
Banyak orang di Indonesia mungkin berpikir bahwa bekerja di luar negeri adalah jalan pintas menuju kekayaan. Namun, cerita dari Mandy ini menjadi pengingat bahwa semua negara memiliki tantangan ekonominya sendiri. Meski gaji di Belanda terlihat lebih besar dibandingkan UMR di Indonesia, tapi beban hidup di sana juga tidak kalah berat.

Di sisi lain, pengalaman bekerja di luar negeri tetap memiliki banyak nilai positif. Selain memperluas wawasan dan budaya, bekerja di sektor horeca memberikan keterampilan praktis yang berguna dan bisa dijadikan bekal saat kembali ke Indonesia.

Kesimpulan: Gaji Besar Tidak Selalu Berarti Bebas Finansial
Kisah yang dibagikan Mandy menjadi pengingat bahwa gaji besar di luar negeri tidak serta-merta menjamin kebebasan finansial. Tantangan tetap ada, termasuk biaya hidup tinggi dan harga properti yang tidak terjangkau bagi sebagian besar pekerja.

Namun, pengalaman bekerja di luar negeri tetap menjadi aset berharga. Bagi kamu yang bercita-cita merantau ke Eropa, penting untuk meriset terlebih dahulu tentang realita kehidupan di negara tujuan. Pahami juga tentang pajak, sistem jaminan sosial, hingga biaya hidup, agar bisa mempersiapkan strategi keuangan dengan lebih matang.